Price Tag (Jessie J, truly ahead of her time)

Hallo semuanya (?),


Pada tau lirik lagu Price Tag gak, selain bagian yang "it's not about the money, money, money..." haha. Bagian yang agak-agak di awal:


"When the sale comes first,

And the truth comes second,"


Sudah sejak beberapa bulan terakhir, lirik ini terasa sangat, sangat, sangaaat relate dengan isi Explore page, homepage, fyp,dst dari sosmedku, dan aku yakin hal ini juga sudah disadari banyak orang.


Semua ujung-ujungnya apa? Duid!

Content ujung-ujungnya apa? Affiliate Link!

Sharing cerita ujung-ujungnya apa? Join kelas digital, atau jualan e-book!

(Dan makin banyak yang narasinya menurutku hasil dari prompt AI, I just can't prove it yet)


Sampai pernah terlintas dipikiranku, dibandingkan istilah "Influencer", sebenarnya banyak dari sesama kita lebih cocok disebut "Marketing Agent/Sales". Coba deh kita lihat, definisi dari influencer itu apa?


An influencer is a person who has built an audience and established credibility in a specific niche. They hold the power to shape the opinions, behaviors, and purchasing decisions of their followers through regular content creation and engagement across digital platforms like Instagram, TikTok, and YouTube. [1, 2]

 - https://dictionary.cambridge.org/us/dictionary/english/influencer


Atau dalam bahasa Indonesia (ini aku terjemahin secara singkat aja ya) , Seorang influencer adalah orang yang sudah membangun/memiliki penonton (kalau sekarang lebih ke followers ya) dan membangun kredibilitas dalam topik yang spesifik.


Kalau lihat dari definisinya, hal apa yang muncul duluan di pikiran? Influencer biasanya menguasai /memiliki pengetahuan tertentu, sehingga orang yang mengkonsumsi konten dari influencer tersebut lama-kelamaan akan memiliki pemikiran "kalau si A yg ngomong soal XXXX, gw bisa percaya nih, kan dia influencer soal XXXX".


Hal ini dimanfaatkan oleh banyak pihak, baik si influencer itu sendiri, brand-brand yang melihat trend pemasaran semakin ke arah pemasaran yang "organic content/real people content" (ini istilah ku sendiri aja yaa), sampai orang-orang biasa yang ingin mendapatkan penghasilan dari cara pengguna sosmed mencari informasi dari para influencer ini.


Menurutku (sekali lagi, semua ini hanya opini ya), sekarang dikit-dikit orang mencap diri sendiri atau orang lain sebagai seorang influencer. Viral dikit? Influencer! Konten jualan rame? Influencer! Cerita kesedihan atau kehidupan sehari-hari yang sebenarnya tidak ada "isinya" tapi rame? Influencer!


Kalau memang hasil dari keviralan itu menghasilkan niat dan semangat untuk membuat konten yang berbobot, mungkin pemikiranku di awal tidak akan secepat ini terjadi. Tapi nyatanya, alur selalu sama, setelah viral, dapat sponsor (which is good for them, get those bags bro/sis!), lalu konten-konten selanjutnya dibuat dengan dasar "yang penting viral".


Mungkin yang baca sampai sini bakal mikir "apa sih sensitif banget? Cemburu ya orang dapat uang?" hhaha. Rasa cemburu mungkin ada di beberapa orang, tapi untukku pribadi sebenarnya lebih ke jenuh dan terganggu. Bayangin aja scroll-scroll bentar isinya orang jualan, padahal harapan kita dapat cerita, ilmu, atau bahkan hiburan-hiburan ringan saja.


Kadang banyak yang bercerita panjang dan diakhiri dengan link barang, sehingga pembaca yang paham intinya langsung merasa kegocek/disia-siakan waktunya, karena kalau kita tahu ujungnya jualan, pasti kita merasa wah ini cerita fiksi nih, males deh bacanya.


Jadi ya begitu deh, ini isi hatiku aja sih, dan harapanku semakin banyak orang yang mau share secara tulus, tanpa jualan, tanpa hidden ads, agar lingkungan sosmed lebih seru dan bermakna.


Dan semoga suatu hari nanti, Indonesia juga bisa menerapkan semacam "disclosure" dalam periklanan, karena aku cape aja dengan konten yang pura-pura suka pakai sesuatu, padahal mereka dibayar karena itu tanpa kelihatan mereka sudah benar-benar mencoba dan mereview barang tersebut.


That's all, see you on my next post :)!

Comments

Popular posts from this blog

Bikin Blog di 2026 ? Ngapain dah ??

Test Pack Pertamaku